Sabtu, 17 September 2022

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

ilutrasi

Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan.

Jamur tiram putih berwarna putih agak krem dengan diameter tubuh 3-14 cm. Jamur ini memiliki miselium.  Tubuh buah jamur inilah yang bernilai ekonomis tinggi dan menjadi tujuan dari budidaya jamur tiram. Teknik budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga pasca panen sangat perlu diperhatikan agar pelaku usaha benar-benar memahami sehingga lebih menguasai dalam pemeliharaan maupun pengendalian hama tanaman.

Persiapan Penanaman Jamur Tiram

Sebelum melakukan penanaman, hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus sudah tersedia, diantaranya rumah kumbung baglog, rak baglog, bibit jamur tiram, dan peralatan budidaya. (Bisa Anda lihat di artikel Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram). Usahakan budidaya jamur tiram menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaat peralatan dapur.

Untuk mengoptimalkan hasil dalam usaha budidaya jamur tiram di dataran rendah dapat dilakukan dengan modifikasi terhadap bahan media dan takarannya, yakni dengan menambah atau mengurangi takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Dalam usaha skala kecil, eksperimen dalam menentukan takaran bahan media merupakan hal yang sangat penting guna memperoleh takaran yang pas. Hal ini mengingat jamur yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh berbeda tentu membutuhkan nutrisi dan media yang berbeda pula tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media dan lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing.

Sebagai media tumbuh jamur tiram, serbuk gergaji berfungsi sebagai penyedia nutrisi bagi jamur. Kayu yang digunakan sebaiknya kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen jamur tiram.  Hal ini karena kayu keras banyak mengandung selulosa yang dibutuhkan oleh jamur. Jenis-jenis kayu keras yang bisa digunakan sebagai media tanam jamur tiram antara lain sengon, kayu kampung, dan kayu mahoni. Untuk mendapatkan serbuk kayu pembudidaya harus memperolehnya ditempat penggergajian kayu.

Sebelum digunakan sebagai media biasanya sebuk kayu harus dikompos terlebih dahulu agar bisa terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan serbuk kayu dilakukan dengan cara menutupnya menggunakan plastik atau terpal selama 1-2 hari. Pengomposan berlangsung dengan baik jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50 derajat C.

Alternatif bahan yang bisa digunakan untuk mengganti serbuk kayu adalah berbagai macam ampas, misal ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, dan ampas teh. Namun, berdasarkan pengalaman petani jamur tiram di dataran rendah, media yang baik untuk digunakan tetap serbuk gergaji kayu.

Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat dan penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Sebelum membeli dedak dan tepung jagung, sebaiknya pastikan dahulu bahan-bahan tersebut masih baru. Jika memakai bahan yang sudah lama dikhawatirkan sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat pada tumbuhnya jenis jamur yang tidak dikehendaki. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun teung jagung memberikan kualitas hasil jamur yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut mirip. Namun, penggunaan dedak dianggap lebih efisien karena bisa memangkas biaya dan cenderung mudah dicari karena banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kapur (CaCo3) berfungsi sebagai sumber mineral dan pengatur pH. Kandungan Ca dalam kapur dapat menetralisir asam yang dikeluarkan meselium jamur yang juga bisa menyebabkan pH media menjadi rendah.

Wadah yang digunakan untuk meletakkan campuran media adalah kantong plastik bening tahan panas (PE 0,002) berukuran 20 cm x 30 cm. Adapun komposisi media semai adalah serbuk gergaji 100 kg; tepung jagung 10 kg; dedak halus atau bekatul 10 kg; kompos 0,5 kg; kapur (CaCo3) 0,5 kg; dan air 50-60%. Ada dua hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman bibit jamur, yaitu sterilisasi bahan dan sterilisasi baglog.

Sterilisasi Bahan

Sebelum dicampur dengan media lain, serbu kayu dan dedak disterilisasi terlebih dahulu menggunakan oven selama 6-8 jam pada suhu 100 derajat C. Dengan sterilisasi tersebut selain mengurangi mikroorganisme penyebab kontaminsasi juga menguranngi kadar air pada serbuk gergaji kayu. Dengan demikian, media menjadi lebih kering. Kedua bahan tersebut kemmudian dicampur dan diberi air sekitar 50—60% hingga adonan menjadi kalis dan bisa dikepal. Air berfungsi dalam penyerapan nutrisi oleh miselium. Air yang digunakan harus air bersih untuk mengurangi resiko kontaminasi organisme lain dalam media. Dalam memasukkan media ke dalam plastik, media harus benar-benar padar agar jamur yang dihasilkan bisa banyak. Jadi pastikan bahwa bahan-bahan telah cukup padat di dalam plastik dengan cara menekan—nekan adonan hingga benar-benar padat, kemudian bagian atas kantong dipasang cincin paralon dan selanjutnya kantong plastik ditutup dengan sumbat kapas dan diikat dengan karet.

Sterilisasi Baglog

Sterilisasi baglog dilakukan dengan cara memasukkan baglog ke dallam autoclave atau pemanas/steamer dengan suhu 121 derajat C selama 15 menit. Untuk mengganti penggunaan autoclave atau streamer, dapat menggunakan drum dengan kapasitas besar atau mampu menampung sekitar 50 baglog dan dipanasi di atas kompor minyak atau dapat juga menggunakan oven. Memang, sterilisasi baglog menggunakan drum memakan waktu lebih lama, yaitu sekitar 8 jam, tetapi dianggap lebih menghemat biaya.

Setelah proses sterilisasi selesai, baglog kemudian didinginkan, yakni dengan mematikan alat sterilisasi dan membiarkan suhunya turun sedikit demi sedikit. Setelah proses pendinginan, baru kemudian dilakukan penanaman bibit jamur.

PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM

Salah satu penentu keberhasilan budidaya jamur tiram adalah kebersihan dalam melakukan proses budidayanya, baik kebersihan tempat, alat, maupun pekerjanya. Hal ini karena kebersihan adalah hal yang mutlak harus dipenuhi. Untuk itu, tempat untuk penanaman sebaiknya harus dibersihkan dahulu dengan sapu, lantai dan dindingnya dibersihkan menggunakan disinfektan. Alat yang digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol dan dipanaskan di atas api lilin. Selain itu, selama melakukan penanaman para pekerja juga idealnya menggunakan masker. Hal ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya kontaminasi.

Dalam budidaya jamur tiram hal yang juga harus diperhatikan adalah menjaga suhu dan kelembaban ruang agar tetap pada standar yang dibutuhkan. Jika cuaca lebih kering, panas, atau berangin, tentu akan mempengaruhi suhu dan kelembaban dalam kumbung sehingga air cepat menguap. Bila demikian, sebaiknya frekuensi penyiraman ditingkatkan. Jika suhu terlalu tinggi dan kelembaban kurang, bisa membuat tubuh jamur sulit tumbuh atau bahkan tidak tumbuh. Oleh karena itu, atur juga sirkulasi udara di dalam kumbung agar jamur tidak cepat layu dan mati. Pengaturan sirkulasi dapat dilakukan dengan cara menutup sebagian lubang sirkulasi ketika angin sedang kencang. Sirkulasi dapat dibuka semua ketika angin sedang dalam kecepatan normal. Namun, yang terpenting adalah jangan sampai jamur kekurangan udara segar.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT PADA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Selain pemeliharaan baglog, dalam budidaya jamur tiram juga perlu dilakukan perawatan untuk mencegah atau mengendalikan hama dan penyakit yang mungkin bisa menyerang jamur tiram. Hama dan penyakit yang menyerang jamur tiram tentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan maupun jamur itu sendiri. Sehingga antara tempat budidaya yang satu dan yang lain, serangan hama penyakit kemungkinan dapat berbeda-beda.

HAMA PENYAKIT JAMUR TIRAM

Ulat

Ulat merupakan hama yang paling banyak ditemui dalam budidaya jamur tiram. Ada tiga faktor penyebab kemunculan hama ini yaitu faktor kelembaban, kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur dan jamur yang tidak terpanen, serta lingkungan yang tida bersih.

Hama ulat muncul ketika kelembaban udara berlebihan. Oleh sebab itu, hama ulat sering dijumpai ketika musim hujan. Pencegahan menjadi solusi terbaik untuk mengatasi hama ini adalah dengan mengatur sirkulasi udara. Caranya dengan membuka lubang sirkulasi dan untuk sementara proses penyiraman keumbung dihentikan.

Pangkal jamur yang tertinggal di baglog saat pemanenan dapat menimbulkan binatang kecil seperti kepik. Kepik inilah yang menjadi penyebab munculnya hama ulat. Sementara jamur yang tidak terpanen kemungkinan terjadi karena jamur tidak muncul keluar sehingga luput saat pemanenan dan menjadi busuk. Hal ini menyebabkan munculnya ulat. Sebaiknya, ketika melakukan pemanenan baglog telah dipastikan kebersihannya sehingga tidak ada pangkal atau batang dan jamur yang tidak terpanen.

Ulat bisa saja muncul karena rumah kumbung ataupun sekitar kumbung tidak berseih. Misalnya adanya kandang ternak atau tanaman di sekitar rumah kumbung.

Untuk mencegah dan mengatasi serangan hama ulat, lakukan pembersihan rumah kumbung dan sekitar rumah kumbung dengan melakukan penyemprotan formalin.

Semut, Laba-laba, dan Kleket (sejenis moluska)

Secara mekanis hama semut dan laba-laba dapat diatasi dengan membongkar sarangnya dan menyiramnya dengan minyak tanah. Sedangkan secara kemis hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida. Cara ini merupakan cara terakhir dan usahakan untuk menghindari penggunaan insektisida jika serangan tidak parah karena produk jamur merupakan produk organik. Keuntungan jika pemberantasan hama serangga dilakukan dengan cara mekanis antara lain, dapat memangkas biaya selama perawatan dan juga ramah lingkungan. Sementara itu hama kleket kerap dijumpai pada mulut baglog. Untuk mengendalikannya juga dilakukan dengan cara mekanis, yaitu mengambilnya dengan tangan.

TUMBUHNYA CENDAWAN ATAU JAMUR LAIN

Jamur lain yang kerap mengganggu jamur tiram adalah Mucor sp., Rhizopus sp., Penicillium sp., dan Aspergillus sp. pada substrat atau baglog. Serangan jamur-jamur tersebut bersifat patogen yang ditandai dengan timbulnya miselium berwarna hitam, kuning, hijau, dan timbulnya lendir pada substrat. Miselium-miselium tersebut mengakibatkan pertumbuhan jamur tiram terhambat atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. Penyakit ini dapat disebabkan karena lingkungan dan peralatan saat pembuatan media penanaman kurang bersih atau karena lingkungan kumbung yang terlalu lembab.

Untuk mengatasi penyakit ini, lingkungan dan peralatan ketika pembuatan media dan penanaman perlu dijaga kebersihannya. Kelembaban di dalam kumbung juga diatur agar tidak berlebihan. Penyakit ini dapat menyerang baglog yang sudah dibuka ataupun masih tertutup. Jika baglog sudah terserang maka harus segera dilakukan pemusnahan dengan cara dikeluarkan dari kumbung kemudian dibakar.
Tangkai Memanjang

Penyakit ini merupakan penyakit fisiologis yang ditandai dengan tangkai jamur memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara yang kurang sempurna. Agar tidak terserang penyakit ini harus dilakukan pengaturan ventilasi dalam kumbung seoptimal mungkin.

PANEN DAN PASCA PANEN

Pemanenan merupakan kegiatan budidaya yang selalu dinantikan oleh pelaku usaha. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka penanaman selama panen dan pasca panen harus dilakukan dengan baik.

Waktu dan Cara Panen Jamur Tiram

Jamur tiram termasuk jenis tanaman budidaya yang memiliki masa panen cukup cepat. Panen jamur tiram dapat dilakukan dalam jangka waktu 4o hari setelah pembibitan atau setelah tubuh buah berkembang maksimal, yaitu sekitar 2-3 minggu setelah tubuh buah terbentuk. Perkembangan tubuh buah jamur tiram yang maksimal ditandai pula dengan meruncngnya bagian tepi jamur. Kriteria jamur yang layak untuk dipanen adalah jamur yang berukuran cukup besar dan bertepi runcing tetapi belum mekar penuh atau belum pecah. Jamur dengan kondisi demikian tidak mudah rusak jika dipanen. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika produk dipasarkan, misalnya keseragaman berat dan ukuran jamur tiram.

Penanganan Pasca Panen Jamur Tiram

Penanganan yang dilakukan usai pemanenan jamur tiram bertujuan untuk menciptakan hasil akhir yang berkualitas sehingga sesuai dengan permintaan pasar. Berikut beberapa tahapan agar produk jamur tiram yang dihasilkan berkualitas baik.

Penyortiran

Jamur yang telah dipanen harus segera dicuci dengan air bersih, kemudian bagian tubuh buahnya dipisahkan deri pangkalnya. Proses pencucian dan pemisahan ini penting untuk dilakukan karena bila selama proses budidaya petani menggunakan pestisida, biasaya racun pestisida akan mengendap pada bagian pangkal dan masih memungkinkan terdapat residu yang tertinggal pada tubuh buah. Setelah diyakini kebersihannya, proses sortasi dilakukan untuk mengelompokkan jamur tiram berdasarkan bentuk dan ukurannya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh hasil yang seragam sehingga akan menarik minat konsumen saat dipasarkan.

Pengemasan dan Transportasi Hasil Panen Jamur Tiram

Pengemasan jamur tiram segar biasanya menggunakan plastik kedap udara. Semakin sedikit udara yang ada di dalam plastik, jamur tiram semakin tahan lama untuk disimpan. Namun, idealnya penyimpanan dengan plastik kedap udara hanya dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 2-4 hari. Oleh karena itu, agar jamur tiram segar yang dijual tetap dalam kondisi baik, proses pengangkutan/transportasi tidak boleh terlalu lama dari proses pengemasannya. Seandainya jarak pengangkutan cukup jauh, sebaiknya alat transportasi dilengkapi dengan ruangan berpendingin. [source:dispertan.bantenprov.go.id]

Rabu, 14 September 2022

BUDIDAYA DAN PRODUKSI BENIH KANGKUNG


 PENDAHULUAN

Kangkung (Ipomoea spp.) merupakan salah satu sayuran daun yang paling populer di Asia Tenggara. Kangkung dikenal juga dengan ’swamp cabbage’’water convolvulus’, dan ’water spinach’. Tanaman kangkung berbunga dengan warna yang beragam dari putih sampai merah muda, dan batangnya dari warna hijau sampai ungu. Daunnya merupakan sumber protein, vitamin A, besi dan kalsium. Panduan penanaman yang disajikan adalah berdasarkan kondisi dataran rendah di Taiwan. Beberapa penyesuaian diperlukan disesuaikan dengan kondisi iklim, tanah, musim, hama dan penyakit. Kangkung beradaptasi terhadap kondisi iklim dan tanah yang cukup beragam, akan tetapi memerlukan kelembaban tanah yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimum. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi lebih disukai. Kangkung dapat memberikan hasil yang optimum pada kondisi dataran rendah Tropika dengan temperatur tinggi dan penyinaran yang pendek. Temperatur yang ideal berkisar 25 – 30oC, sedangkan dibawah 10 oC tanaman akan rusak. Ada dua jenis kangkung, yaitu kangkung darat (Ipomoea reptans), berdaun sempit dan beradaptasi pada tanah yang lembab, serta dipanen hanya satu kali; dan kangkung air (Ipomoea aquatica) yang berdaun lebih lebar dan berbentuk panah. Jenis ini beradaptasi pada kondisi tergenang dan dipanen beberapa kali.

Kultur Teknis

Persiapan Tanam

Kangkung memerlukan lahan yang diolah dengan baik, dengan lebar bedengan 90 cm dan jarak antar bedengan 150 cm. Karena kangkung toleran terhadap genangan, maka bedengan yang dibuat boleh tidak terlalu tinggi.

Perlakuan benih

Kangkung dapat ditanam dengan menanam benih langsung, melalui pemindahan atau menggunakan stek batang. Penanaman secara langsung dapat dilakukan bila jumlah benih cukup banyak, kurang tenaga. Benih disemai pada bedengan dengan larikan sedalam 1-1.5 cm, jarak antar larikan 15 - 20 cm dan dalam larikan 5 cm. Tutup benih dengan kompos. Bila sudah berdaun dua, kurangi tanaman dengan berjarak tanaman 10-15 cm. Secara komersial, kerapatan tanaman 50 000 tanaman/ha, diperlukan 5 kg/ha benih. Untuk cara penanaman dengan menyebar benih, pengurangan benih tidak perlu dilakukan. Benih yang diperlukan 5 – 10 kg/ha.

Penanaman dengan pemindahan/transplanting. 

Penanaman meliputi dua tahap, yaitu produksi bibit semaian dan penanaman di lapangan. Produksi bibit semaian. Bibit semaian dapat ditumbuhkan pada baki pesemaian atau di bedengan pesemaian. Medium pesemaian harus terdiri dari medium yang mampu menahan air dengan drainase yang baik, misalnya kompos, arang sekam, media campuran untuk pot. Media dikukus selama 2 jam untuk sterilisasi. Biji disemai pada kedalaman 1-1.5 cm, lalu jarangkan bila sudah mempunyai dua daun. Pesemaian sebaiknya dilakukan di bawah naungan, dengan pengairan yang cukup. Bila akan dipindahkan ke lapangan, berikan cahaya matahari langsung 3-4 jam dan pada hari ke-4 semaian sudah menerima matahari penuh, dan biasanya siap dipindah ke lapangan 3 minggu setelah semai, atau bibit semaian mempunyai 5-6 daun.
Menggunakan stek batang.  Bila benih tidak cukup, maka stek batang dapat digunakan sebagai benih. Hal ini biasanya dilakukan pada kangkung berdaun lebar yang banyak ditanam di dataran rendah. Stek yang panjangnya 15-25 cm dengan 3-4 buku biasanya diambil pada panen pertama, kemudian direndam 1-3 hari dalam air untuk pembentukan akar sebelum dipindahkan ke lapangan. Stek ditanam 2-3 stek/lubang sedalam 5-10 cm dengan jarak antar guludan 20-30 cm, dan jarak dalam guludan 15-20 cm. Siram segera setelah tanam.

Pemupukan
Kangkung dapat hidup pada kesuburan tanah sedang. Kangkung sangat tanggap terhadap pemupukan nitrogen dan juga pemupukan organik. Kombinasi penggunaan pupuk organik dan anorganik dapat meningkatkan hasil dan memelihara kesuburan tanah. Dosis pupuk yang digunakan tergantung pada kesuburan tanah, jenis tanah, kecepatan ketersediaan pupuk, dan kandungan bahan organik. Rekomendasi pemupukan tergantung dari kondisi setempat. Pupuk kandang 10 ton/ha, pupuk anorganik 75 kg/ha urea, 100 kg/ha SP-36, dan 50 kg/ha KCl.

Pengairan
Kangkung membutuhkan banyak air karena berbatang basah. Pengairan sangat diperlukan setelah tanam, terutama bila tanaman layu pada siang hari. Pengairan dapat dilakukan dengan dileb diantara bedengan.

Penyiangan gulma

Gulma menyaingi cahaya, air, dan cahaya yang dapat mengurangi hasil. Tanah harus diolah dengan baik karena benih kangkung lambat untuk tumbuh, maka pengendalian gulma perlu dilakukan dini pada penanaman benih secara langsung

 Pengendalian hama dan penyakit tanaman

Penyakit yang biasa menyerang kangkung adalah: karat putih (Albugo ipomoeae-panduratae), aphids dan thrips. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara bercocok tanam yang baik seperti rotasi tanaman, sanitasi, jarak tanam yang cukup, penyiraman di antara bedengan. Penggunaan pestisida sebaiknya dihindarkan, kecuali bila serangan begitu tinggi, sehingga penyemprotan pestisida perlu dilakukan mengikuti kaidah yang berlaku untuk keselamatan.

 Panen

Kangkung siap dipanen 30-45 hst, tergantung dari varietas dan tipe tanaman kangkung. Panen dapat dilakukan sekali sampai beberapa kali. Untuk panen yang berulang, tunas dipotong 15-20 cm dari permukaan tanah, biasanya seminggu sekali. Panen yang berulang menghambat pembungaan dan merangsang tumbuhnya tunas lateral yang berkembang menjadi tunas batang baru. Panen sebaiknya dilakukan pada waktu hari tidak terlalu panas untuk menghidarkan layu, pagi  atau sore sekali. Hasil panen sebaiknya disimpan di tempat yang teduh dan sejuk.

source :dinastph.lampungprov

Senin, 12 Februari 2018

MODIFICATION OF PLANT VEGETABLE PLANT MEDICINE

Ordinary vegetable crops are planted on soil with large areas. Limited land becomes an obstacle in implementing the cultivation of plants. Along with the development of technology, humans cultivate crops with various media on a limited planting place. Efforts are in the form of modification of planting containers and planting media. Modification of planting medium is done by altering part or all of it, combining, and mixing planting medium with certain composition. the techniques currently used in modifying the type of planting medium one example is hydroponic techniques and modification of planting container one of them is vertikultur. Planting media is a very important component in the cultivation of plants. plant growth is influenced by planting media because the planting medium has a role to support upright plant growth, providing oxygen, water and nutrient. Plant media commonly used is the soil.

To get a good planting media and appropriate plant types in planting to know the characteristics of each type of planting media. Based on the type of constituent material, planting medium can be divided into organic and inorganic materials. Organic planting media comes from the components of living things, such as parts of plants (leaves, stems, flowers, fruit or bark). The use of organic material has advantages because it is able to provide nutrients for plants, produce good air circulation, and have high water absorption type of organic material that can be used as a medium for planting, charcoal, fern, compost, moss, coconut husk, rice husk and humus. Organic matter comes from material weathering process. Organic materials can also be derived from synthetic or chemical materials. Inorganic media which often used as planting medium is hydrogel, sand, gravel, broken brick, sponge, clay, zeolite, vermiculite, perlite.

1. MODIFICATION OF PLANT MEDIA

Limitations of soil cropping media do not become an obstacle to trying to do vegetable cultivation, things that need to be considered adalh modification techniques planting media. Each stage should be done well and appropriately.

Hydroponics is one of the soil cultivation technology with controlled plant nutrients. Hydroponics can be done with planting medium. Planting media that can be used for hydroponics include coconut husks, fibers, gravel, charcoal, zeloit, and water. Hydroponic techniques can be applied in restricted land areas.

The following materials, tools, and hydroponics techniques are simple Materials and tools:

 a. Vegetable Seeds
 b. Hydroponics nutrition 
c. Sterilized planting media by soaking boiling water 
d. Place nursery 
e. Media container 
f. Nutrient solution containers

Hydroponic culture typics: 

1.) Seedling Nurseries can be done directly or through a nursery. nurseries can use sand and rockwool planting media.

2.) Preparation of nutrient solution Nutritional solution is the main source of nutrient supply of plants. Nutritional solutions can be given in puddles or flows.

3.) Planting Move the plant from the seedbed to a container that has been filled with sterile media. Plants that do not need sowing can be directly planted in the planting container.

4.) Treatment At the beginning of planting, store the plants in areas that are not exposed to direct sunlight. After 1-2 weeks the plants can be transferred in areas with direct sunlight of nutrients added regularly and according to the needs of the plant.

5.) Harvest Harvesting must be done carefully so as not to disrupt the next production.

2. MODIFIKAI CONTAINER OF PLANT

Planting containers are a limited place to store media and nutrients for plants. Many types of containers can be used as containers for planting. The ideal planting container is a durable, durable container, able to excess water, mild, and attractive. Common containers in use are earthen pots, cement pots, polybags, pipes, guttering, and various containers that can hold media and nutrients for plants. and various used goods such as cans and plastic packaging. things to watch out for when planting crops on containers is the availability of adequate nutrients and the conditioning of optium so that plants can grow well. vertikultur is an agricultural cultivation technique that is done vertically or stratified, both in indoor and outdoor areas. Vegetable plants that are commonly cultivated vertically are lettuce, kale, spinach, pakcoy, and caisim. The models and types of verticulture containers vary widely, generally in a stair-like shape with multiple steps or a number of shelves, materials may be bamboo or paralon pipes, even used cans.

original source in indonesia blog: ayuameliaputri

Selasa, 06 Februari 2018

Cara Menanam CABAI RAWIT Dalam Polybag atau Pot Agar Tahan Lama dan Berbuah Lebat

Sekarangkan orang lagi ramai untuk berkebun, banyak yang sudah senior dan tidak sedikit pula yang pemula. Bagi yang sudah lama memiliki hobi berkebun bercocok tanam merupakan sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Akan tetapi bagi yang baru ingin memulai, bercocok tanam kadang dianggap sesuatu yang sulit. Padahal tidak demikian, siapapun bisa bercocok tanam asalkan mau dan punya keinginan. Kalau ragu, bertanyalah dan belajrlah pada teman yang sudah berpengalaman. Kalau malu bertanya pada teman anda, searchinglah di google, semua informasi yang anda butuhkan ada disana. Untuk pemula yang sama sekali belum paham tentang berkebun, sebaiknya mulailah dengan menanam jenis tanaman yang paling mudah ditanam. Misalnya tanaman sayuran daun, seprti bayam atau kangkung. Bayam dan kangkung adalah contoh tanaman yang mudah tumbuh, mudah perawatannya dan cepat bisa dinikmati hasilnya. Menanam cabai rawit sebenarnya tidaklah sulit, sama seperti bayam dan kangkung. Kesulitan menanam cabai rawit yang sebenarnya adalah karena anda tidak pernah menanamnya. Cobalah menanam, maka semuanya akan mudah, ketika menemui masalah pengalaman akan membimbing anda untuk menjadi pintar.
Cabai rawit merupakan salah satu jenis sayuran yang harganya sangat fluktuatif, kadang mahal kadang juga murah. Ketika harga murah mungkin tidak ada masalah dengan pengeluaran untuk membeli cabai rawit. Tetapi ketika harganya menjulang sampai 100 ribu perkilo, cabai rawit rasanya menjadi berkali-kali lipat pedasnya. Rasa pedas cabai rawit ketika harganya mahal bukan hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga dirasakan oleh petani, keuntungan yang mereka peroleh menjadi sangat pedas. Nah, kalau tidak ingin mengeluh saat harga cabai mahal, yuk kita tanam sendiri di rumah. Jika tidak punya cukup lahan, anda bisa menanam cabai rawit di pot atau polybag. Banyak keuntungan jika anda memiliki hobi berkebun, diantaranya adalah lingkungan rumah menjadi lebih hijau dan asri, memanfaatkan waktu luang dengan cara yang bermanfaat, dan setidaknya anda bisa berswasembada pangan sendiri, syukur-syukur tetangga juga bisa ikut menikmati hasil kebun anda. Bagaimana cara memulai untuk menanam cabai rawit?

Tahapan-tahapan Menanam CABAI RAWIT di Pot atau Polybag

1. Memilih Benih Cabe Rawit

Untuk skala hobi, benih cabai rawit bisa menggunakan cabai dari dapur atau membeli cabai rawit yang sudah tua di pasar. Jika anda punya pohon cabai yang sudah berbuah, cabai yang sudah tua bisa digunakan sebagai benih. Jenis cabai rawit ada bermacam-macam, diantaranya adalah rawit hijau, rawit putih dan lain sebagainya. Jika ingin membuat benih dari cabe rawit yang dibeli di pasar, pilihlah buah cabai yang sudah benar-benar tua. Ciri-ciri cabai yang baik dijadikan benih adalah kulit cabai berwarna merah menyala, kelihatan segar dan tidak keriput, tangkai buah masih berwarna hijau segar. Jangan membuat benih dari buah cabai yang tangkainya sudah kering dan kulit keriput, meskipun warnanya kulitnya merah. Karena bisa jadi buah cabai tersebut bukan merah karena tua, tetapi karena terlalu lama disimpan. Untuk pilihan jenisnya atau varietasnya, pilihlah sesuai dengan selera anda.
Benih cabai rawit juga bisa dibeli ditoko, banyak macam varietas cabai rawit hibrida yang tersedia di pasaran. Namun untuk skala rumahan akan lebih hemat jika membuat benih sendiri. Benih cabai yang dijual ditoko biasanya tersedia dalam kemasan skala budidaya dengan harga yang relatif mahal. Tapi santai saja, anda bisa membeli benih cabai hibrida secara eceran yang jumlahnya bisa disesuaikan dengan keinginan anda. Sekarang ini banyak penjual online yang menyediakan berbagai benih tanaman, termasuk benih cabai 

2. Cara Menyemai Benih CABAI RAWIT

Buah cabai yang sudah dipilih untuk dijadikan benih dibelah terlebih dahulu untuk diambil bijinya. Kemudian biji cabai dicuci hingga bersih untuk membuang lendir yang melekat pada biji cabai. Selanjutnya lakukan seleksi benih, yaitu dengan cara merendam biji cabai dalam air. Buang biji cabai yang terapung dan melayang, ambil biji yang tenggelam untuk dijadikan benih. Kemudian biji cabai rawit dijemur hingga kering dan dapat disemai langsung atau disimpan.
Berikut ini cara menyemai benih cabai rawit agar cepat tumbuh ;
> Siapkan media semai, yaitu campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 3 : 1
> Aduk tanah dan pukan/kompos tersebut hingga tercampur rata. Diamkan ditempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung selama kurang lebih 1 minggu.
> Rendam benih menggunakan air hangat kuku selama kurang lebih 3 jam. Bisa juga ditambahakan ZPT secukupnya atau air bawang merah untuk merangsang perkecambahan.
> Media semai dimasukkan kedalam wadah semai atau tray semai atau disemai dihamparan tanah. Tapi untuk lebih amannya, sebaiknya menggunakan wadah atau tray semai. Siram hingga basah.
> Letakkan benih pada media semai dengan jarak yang teratur, bisa 3 x 4 cm atau 4 x 4 cm.
> Tutup tipis benih menggunakan tanah halus
> Tutup wadah semai menggunakan plastik hitam atau daun pisang untuk mengkondisikan lingkungan yang hangat dan lembab agar benih lebih cepat berkecambah.
> Penyemaian bisa juga menggunakan polybag kecil. Isi polybag dengan media semai, kemudian disiram hingga basah dan masukkan 1 benih setiap polybag.
> Dalam waktu 7 – 10 hari biasanya benih sudah berkecambah. Letakkan wadah semai pada tempat yang teduh atau dibawah naungan.
> 2 hari kemudian bibit mulai diperkenalkan dengan sinar matahari secara bertahap agar tidak terjadi etiolasi dan bibit memiliki batang yang kuat.
> Usia 25 – 30 hari kemudian bibit sudah bisa dipindah tanah ke pot / polybag pembesaran.

3. Menyiapkan Media Tanam Dalam Polybag atau Pot

Tahapan selanjutnya adalah menyiapkan pot/polybag dan media tanam. Pot atau polybag yang akan digunakan untuk menanam cabai rawit sebaiknya memiliki diameter minimal 30 cm. Lebih besar lebih baik supaya pot/polybag mampu menampung media tanam yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Wadah yang digunakan bisa memanfaatkan barang-barang bekas yang ada dirumah anda, seperti ember bekas, plastik asoy/kantong plastik, kaleng bekas cat, jerigen bekas dan lain sebagainya. Media tanam sebaiknya disiapkan 10 hari atau 7 hari sebelum usia bibit siap untuk dipindah tanam.
Media tanam yang digunakan hendaknya bersifat porous (gembur), tidak mudah becek dan banyak mengandung bahan organik atau unsur hara. Media tanam untuk menanam cabai dalam pot atau polybag adalah campuran tanah, pupuk kandang, sekam mentah dan arang sekam. Gunakan tanah yang gembur, bisa menggunakan tanah yang terdapat disekitar pembuangan sampah atau tanah yang ada dibawah rumpun bambu. Karena media tanam dalam polybag cenderung lebih cepat padat, maka media tanam wajib dicampur dengan arang sekam. Arang sekam berfungsi untuk menjaga porositas tanah dan mencegah pemadatan media tanam. Perbandingan campuran tanah, pupuk kandang atau kompos, sekam mentah dan arang sekam adalah 3 : 2 : 1 : 1.

4. Cara Menanam Bibit Cabai Rawit di Pot atau Polybag

Nah, jika media tanam sudah disiapkan dan bibit sudah cukup umur, selanjutnya adalah proses penanaman. Pemindahan bibit ke media pembesaran atau penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Siram terlebih dahulu media tanam hingga basah dan buat lubang tanam tepat ditengah-tengah pot atau polybag. Jika bibit cabai rawit disemai tanpa menggunakan polybag, ambil bibit dari persemaian secara hati-hati. Bibit jangan dicabut tapi dicongkel beserta tanah dan akarnya agar bibit tidak stres setelah dipindah tanam. Masukkan bibit kedalam lubang tanam, tutup pangkal bibit menggunakan tanah sambil ditekan-tekan sedikit supaya bibit kokoh. Kemudian disiram dengan air secukupnya.
Jika bibit disemai menggunakan tray semai, ambil atau lepaskan bibit secara hati-hati agar akar tidak putus atau rusak. Bibit yang sudah dilepaskan dari tray semai harus segera ditanam pada media tanam. Jika penyemaian menggunakan polybag, lepaskan polybag dengan hati-hati jangan sampai tanah media semai pecah atau rusak. Setelah pemindahan bibit selesai, letakkan polybag atau pot pembasaran tersebut pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung selama 3 atau 4 hari. Hari kelima bibit sudah beradaptasi dengan baik pada media tanam dan bisa mulai diperkenalkan dengan sinar matahari langsung. Lakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit dan jika bibit sudah cukup kuat dan diperkirakan akar baru sudah tumbuh letakkan pot atau polybag pada tempat yang terkena sinar matahari secara penuh.

5. Pemeliharaan dan Perawatan Tanaman Cabai Rawit di Pot/Polybag

Setelah penanaman selesai, tahap selanjutnya adalah pemeliharaan dan perawatan. Pemeliharaan tanaman cabai rawit dalam pot/polybag tidaklah sulit dan sangat mudah. Pemeliharaan atau perawatan yang harus dilakukan antara lain penyiraman, pemsangan tiang ajir dan penyiangan.
> Tanaman cabai rawit sangat membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Siram media semai secukupnya jika terlihat kering. Jangan menyiram terlalu banyak, karena bisa menyebabkan media tanam terlalu basah dan tanaman mudah terserang penyakit jamur atau bakteri.
> Jika pada musim penghujan sebaiknya media tanam ditutup dan diberi lubang seperlunya pada pangkal batang saja. Tujuannya agar air hujan tidak terlalu banyak mengguyur media tanam.
> Agar tajuk tanaman dapat berdiri kokoh dan tidak mudah rebah diterpa angin dan hujan, maka perlu dipasang tiang ajir. Ajir sebaiknya dipasang sebelum penanaman dilakukan atau segera setelah penanaman selasai. Jika terlambat memasang ajir
dikhawatirkan ajir dapat merusak perakaran tanaman. Jika terlanjur terlambat, ajir sebaiknya dipasang diluar polybag atau pot.
> Selanjutnya adalah penyiangan, yaitu membersihkan rumput yang tumbuh di media tanam dan membersihkan areal sekitar tanaman. Gulma atau rumput liar dapat mengganggu pertumbuhan tanaman cabai rawit dan menjadi inang hama dan penyakit.
> Pemeliharaan yang juga tudak kalah pentingnya adalah melakukan perempelan tunas-tunas bawah. Tunas yang tumbuh disetiap ketiak daun cabai sebaiknya dikurangi dengan cara dirempel. Tunas yang dirempel yaitu 4 – 5 tunas yang berada pada posisi paling bawah.

6. Pemupukan Tanaman Cabai Rawit di Pot atau Polybag

Agar cabai rawit yang ditanam di pot atau polybag dapat tumbuh dengan subur dan berbuah lebat, tanaman harus diberi pupuk tambahan selain pupuk yang sudah ada pada media tanam. Tujuan pemupukan susulan atau pemberian pupuk tambahan adalah untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, sebab hara yang terdapat pada media tanam lama-lama akan habis diserap oleh akar. Pupuk yang diberikan bisa berupa pupuk anorganik atau pupuk kimia pabrikan atau pupuk organik. Jenis pupuk yang digunakan sebaiknya adalah pupuk NPK dan pupuk kandang yang sudah matang. Akan lebih baik jika menggunakan pupuk kandang yang sudah difermentasi atau pupuk kandang yang dilengkapi dengan trichoderma.
Berikut ini dosis dan cara pemupukan cabai rawit dalam pot atau polybag ;
> Pemupukan susulan pertama dilakukan ketika tanaman cabai rawit berumur 15 – 20 hari setalah tanam. Taburkan 1/2 sendok makan pupuk NPK disekeliling pangkal batang, jangan sampai mengenai batang ya. Lakukan hal yang sama setiap 10 hari sekali. Pemupukan sebaiknya dilakukan ketika media tanam dalam kedaan basah agar pupuk mudah diserap oleh akar. Waktu pemupukan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari.
> Perhatikan kondisi tanaman secara rutin dan seksama, jika terlihat gejala kekurangan unsur N segera berikan pupuk nitrogen, jika kekurangan unsur kalsium segera berikan pupuk kalsium dan lain sebagainya. Tapi ingat, berikan pupuk N seperlunya saja, jangan berlebihan.
> Pemberian pupuk kimia sebaiknya diimbangi dengan pupuk organik, pupuk kandang atau kompos misalnya. Taburkan 2 genggam pupuk organik pada media tanam yang dilakukan secara bergantian dengan pupuk NPK. Misalnya ; pemupukan pertama menggunakan pupuk NPK, pemupukan kedua menggunakan pupuk kandang, pemupukan ketiga menggunakan pupuk NPK lagi,
begitu seterusnya sampai panen.
> Jika ingin tanaman cabai rawit dalam pot / polybag anda lebih awet dan berumur panjang, sebaiknya kurangi penggunaan pupuk kimia terutama pupuk nitrogen dan perbanyaklah pupuk organik.
> Untuk melengkapi kebutuhan unsur hara makro, akan lebih baik jika setiap 1 minggu tanaman cabai rawit disemprot dengan pupuk daun. Banyak sekali merk pupuk daun yang beredar dipsaran dan bisa anda gunakan, misalnya bayfolangrowmoregandasil D/Bdan lain-lain.

7. Penanggulangan Hama dan Penyakit Tanaman Cabai Rawit

Berhubung ini adalah budidaya cabai rawit skala rumahan atau skala hobi, penanggulangan hama dan penyakit bisa dilakukan secara manual. Yakni dengan cara memungut langsung hama atau mencabut dan membuang jauh-jauh tanaman yang terserang penyakit. Bisa juga dengan menyemprotkan pestisida organik dan unakan insektisida kimia jika diperlukan saja.
> Untuk mengendalikan hama ulat, kepik, belalang, lalat buah dan hama serangga lainnya gunakan insektisida lannatecuracronmetindo atau regent.
> Untuk mengendalikan hama dari golongan kutu-kutuan, seprti tungau, trips, kutu kebul dan kutu daun gunakan akarisida bamex, agrimecdemolishalfamexpromectin atau samite.
> Untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur, gunakan fungisida seperti antracolbion mamistartop dll.
> Untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, gunakan bakterisida.

8. Panen Cabai Rawit Dalam Polybag / Pot

Inilah saat yang paling ditunggu dalam bercocok tanam dan berkebun, yaitu masa panen. Sensasinya sangat luar biasa ketika kita memasak dan mengkonsumsi hasil kebun yang kita tanam sendiri. Gak percaya? coba saja menanam nanti anda akan ketagihan. Setelah 90 hari waktu kita habiskan untuk merawat tanaman cabai rawit mulai dari menyemai benih, cabai rawit yang kita tanam sudah bisa dituai hasilnya. Jika ingin memetik buah cabai yang sudah tua dan berwarna merah, maka anda harus sabar menunggu kurang lebih 30 hari lagi. Jika dirawat dengan baik dan benar, 2 pot cabai rawit saja yang anda tanam sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Anda tidak akan pusing lagi ketika harga cabai rawit mahal, atau ketika anda tidak sempat ke pasar atau ketika tukang sayur langganan anda sakit. Selamat mencoba menanam cabai rawit, selamat berkebun dan semoga bermanfaat.
sumber:mitalom.com

Minggu, 20 Mei 2012

Cara Budidaya Tanaman Melon yang Benar


Blogiztic.net – Pernahkah anda memakan buah melon, mungkin setiap orang sudah pernah merasakan rasanya buah melon. Namun jika anda tahu dari manakah produksi melon itu bisa ada alias budidaya tanaman melon. Mari kita kupas info seputar budidaya tanaman melon tersebut.

Dalam berbudidaya tanaman melon kita sering mendengar para pembudidaya kurang beruntung dalam hasil panen. Informasi seputar budidaya tanaman melon bisa anda dapatkan sekarang juga. Blogiztic akan mengulas budiaya tanaman melon sebagai berikut.

Iklim
Diperlukan penyinaran sinar matahari penuh. Suhu optimal dalam berbudidaya sekitar 25- 25 dengan 300-900 dpl. Angin yang bertiup cukup keras dapat dapat merusak pertanian melon.

Media tanam tanaman melon
Tanah lat yang baik untuk budidaya tanaman melon adalah tanah liat yang banyak mengandung organik seperti seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik, maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH tanah 5,8-7,2.


Pembuatan Media Semai tanaman melon
Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan + 1 minggu di tempat yang teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
Campurkan tanah halus (diayak) 2 bagian/2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian/1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang 1-2 kg . Masukkan media semai ke dalam polybag ukuran 8×10 cm sampai terisi hingga 90%.

Teknik Penyemaian dan pemeliharaan Bibit
Rendam benih dalam 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 tutup POC NASA selama 8-12 jam lalu diperam + 48 jam. Selanjutnya disemai dalam polybag, sedalam 1-1,5 cm. Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah. Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 2:1. Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan yang salah satu ujungnya terbuka.
Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, pada umur bibit 7-9 hari dengan dosis 1,0-1,5 cc/liter. Penyiraman dilakukan dengan hati-hati secara rutin setiap pagi.
Bibit melon yang sudah berdaun 4-5 helai atau tanaman melon telah berusia 10-12 hari dapat dipindahtanamkan dengan cara kantong plastik polibag dibuka hati-hati lalu bibit berikut tanahnya ditanam pada bedengan yang sudah dilubangi sebelumnya, bedengan jangan sampai kekurangan air.

Pembukaan Lahan tanaman melon
Sebelum dibajak digenangi air lebih dahulu semalam, kemudian keesokan harinya dilakukan pembajakan dengan kedalaman sekitar 30 cm. Setelah itu dilakukan pengeringan, baru dihaluskan.

Pembentukan Bedengan tanaman melon
Panjang bedengan maksimum 12-15 m; tinggi bedengan 30-50 cm; lebar bedengan 100-110 cm; dan lebar parit 55-65 cm.

Pengapuran tanaman melon
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.

Pemupukan Dasar tanaman melon
Langkah Tips Trik Panduan Cara Metode Tutorial Gampang Benar Tepat Update Terbaru Mudah Tradisional Pemeliharaan Pelestarian Perawatan Budidaya Tanaman MelonHasil akan lebih baik jika pada pemupukan dasar, POC NASA diganti SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.
Teknik penanaman dalam budidaya melon
Pembuatan Lubang Tanam
Diameter lubang + 10 cm, jarak lubang 60-80 cm. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segiempat atau segitiga.

Cara Penanaman tanaman melon
Bibit siap tanam dipindahkan beserta medianya. Usahakan akar tanaman tidak sampai rusak saat menyobek polibag.

Penyulaman tanaman melon
Penyulaman dilakukan 3-5 hari setelah tanam. Setelah selesai penyulaman tanaman baru harus disiram Sebaiknya penyulaman dilakukan sore hari

Penyiangan tanaman melon
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma/ rumput liar.

Perempelan tanaman melon
Perempelan dilakukan terhadap tunas/cabang air yang bukan merupakan cabang utama

Penggunaan Hormonik
Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-5 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan HORMONIK mulai usia 3-11 minggu, interval 7 hari sekali.

Penyiraman tanaman melon
Penyiraman sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai akan dipetik buahnya kecuali hujan. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah jangan terkena daun dan buahnya. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali.

Pemasangan Ajir tanaman melon
Ajir dipasang sesudah bibit mengeluarkan sulur-sulurnya. Tinggi ajir + 150 – 200 cm. Ajir terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan beban buah + 2-3 kg. Tempat ditancapkannya ajir + 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri. Supaya ajir lebih kokoh bisa menambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk segitiga antara bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di belakangnya.

Pemangkasan tanaman melon
Pemangkasan dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur. Waktu pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25.

Panen tanaman melon
Ciri-ciri yang ada pada tanaman melon yang siap panen.
- Ukuran buah sesuai dengan ukuran normal
- Jala/Net pada kulit buah sangat nyata/kasar
- Warna kulit hijau kekuningan.
- Umur Panen + 3 bulan setelah tanam.
- Waktu Pemanenan yang baik adalah pada pagi hari.

Sedangkan langkah-langkah dalam pann melon ada sebagai berikut.
- Potong tangkai buah melon dengan pisau, sisakan minimal 2,0 cm untuk memperpanjang masa simpan buah.
- Tangkai dipotong berbentuk huruf “T” , maksudnya agar tangkai buah utuh.
- Pemanenan dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang benar-benar telah siap dipanen.
- Buah yang telah dipanen disortir. Kerusakan buah akibat terbentur/cacat fisik lainnya, sebaiknya dihindari karena akan mengurangi harga jual.

Sumber : blogiztic.net

Jumat, 16 Desember 2011

Kementan Perketat Persyaratan Teknis Pemasukan Produk Pertanian



Jakarta – Untuk meminimalisir resiko masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) eksotik yang kian meningkat seiring dengan banyaknya pemasukan berbagai media pembawa, baik yang berupa produk maupun benih tanaman khususnya hortikultura, Kementerian Pertanian mengeluarkan beberapa Peraturan Menteri, antara lain (1) Peraturan Menteri No 88/Permentan/PP.340/12/2011 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan, (2) Peraturan Menteri No 89/ Permentan/OT.140/12/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian No 37/Kpts/Hk. 060/1/2006 tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan  Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Buah – Buahan dan/ atau Sayuran Segar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia, dan  (3) Peraturan Menteri Pertanian No 90/ Permentan/OT.140/12/2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pertanian No. 18/ Permentan/OT.140.2/2008 tentang Persyaratan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.
 
“Peraturan – peraturan tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memperketat persyaratan teknis pemasukan produk Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) dan pengetatan tempat pemasukan,” demikian dikatakan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA saat mengadakan jumpa pers yang didampingi Kepala Badan Karantina, Ir. Banun Harpini. Rabu (14/12)
 
Menurut Mentan, Peraturan Menteri Pertanian yang baru tersebut akan berlaku secara efektif mulai 3 bulan ke depan setelah tercatat dalam Lembaran Negara. Dengan demikian, maka tempat pemasukan buah – buahan dan sayuran segar serta umbi lapis yang hidup hanya dapat dilakukan melalui Pelabuhan Belawan (Sumut), Bandara Soekarno Hatta (Tangerang), Pelabuhan Makasar dan Pelabuhan Tanjung Perak.
 
Lebih lanjut dijelaskan Mentan, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, telah terdeteksi adanya OPTK baru di sentra tanaman pangan dan hortikultura, antara lain Panthoea stewartii, Aphelenchoides fragariae, Psedomonas capsici serta OPTK baru yang belum terdaftar di Peraturan Menteri Pertanian No 38 tahun 2006 yang meliputi penyakit virus disebabkan oleh Tomato infectius Chlorosis Crinivirus (TICCV)
 
“OPTK tersebut memiliki daya rusak yang tinggi terhadap komoditas strategis pertanian kita. Karena itu Kementan melakukan review terhadap beberapa tempat pemasukan produk pertanian, yang salah satunya ditengarai karena tingginya arus lalu lintas dan kurangnya SDM sehingga diharapkan dengan terbitnya beberapa peraturan Menteri Pertanian yang baru maka pelaksanaan pengawasan dan tindakan karantina menjadi lebih optimal,” kata Mentan.
 

Minggu, 06 Maret 2011

Produk Pertanian Indonesia Perlu Dipasarkan Melalui E-Market

Jakarta - Produk pertanian dinilai perlu menggunakan konsep electronic market (e-market) dalam hal pemasaran. Hal ini dilakukan guna meningkatkan daya saing dengan produk pertanian luar negeri.

Demikian disampaikan oleh Ketua Yayasan Coop Indonesia, Adi Sasono disela acara Agrinex Expo 2011 di JCC, Senayan, Jakarta (6/3/2011).

''E-Market merupakan sistem pemasaran yang dilakukan secara elektronik. Produknya langsung dilihat melalui sistem, sehingga jarak antara produsen dan konsumen menjadi lebih dekat,'' ujar Adi.

Akan tetapi, lanjutnya, supaya ada kepercayaan di kedua belah pihak maka harus ada beberapa syarat yang harus dilakukan. ''Karena orang tidak dapat melihat wujud barangnya. Misalnya, ada standar produk yang dijamin lembaga surveyor independen, terjaminnya ketersediaan produk, dan proses pembayarannya pun juga harus terjamin, tidak boleh ada gagal bayar,'' terangnya.

Namun, sebelum menggunakan konsep e-market, perlu diterapkan adanya standarisasi bagi produk-produk pertanian yang ingin dipasarkan.

''Hanya sayur dan buah-buahan yang nilai ekspornya masih kecil dibandingkan impor. Padahal, negara kita adalah negara penghasil buah terbesar di Indonesia,'' kata Adi.

Menurutnya, permasalahan tersebut terjadi karena produk sayur dan buah lokal masih belum memiliki standarisasi yang jelas. Padahal untuk masuk ke dalam e-market diperlukan terlebih dahulu adanya standariasi sebuah produk.

Senada dengan Adi, Dirjen P2HP Kementerian Pertanian, Zaenal Bachrudin mengatakan dengan adanya e-market dapat memberikan keuntungan yang baik bagi para petani. Hal tersebut dirasa dapar memutus tata niaga yang panjang, serta membuat tata niaga baru yang berkeadilan kepada produsen atau petani.

''Tata niaga atau transaksi yang berkeadilan tersebut memiliki ciri, yakni adanya keikhlasan dimana antara penjual dan pembeli ada transparansi yang di dalamnya terdapat standarisasi. Serta ada harga yang ditawarkan juga sesuai dengan kualitas produk terkait,'' terang Zaenal.(nrs/dru)

by:detikfinance.com