Jumat, 03 September 2010

Tomato Cultivation

USAHA MENINGKATKAN KUALITAS BEBERAPA VARIETAS TOMAT DENGAN SISTEM BUDIDAYA HIDROPONIK INCREASING OF TOMATOES QUALITY IN HYDROPONIC CULTURE

by :Ari Wijayani1 dan Wahyu Widodo1


ABSTRACT


An experiment on increasing of tomatoes quality in hydroponic culture was done in a plastic house of Agriculture Faculty, UPN “Veteran”, Yogyakarta. The experiment was a factorial experiment of two factors, with five replications and arranged in Randomized Completely Block Design. The first factor was nutrition formulation: Sundstrom (F1) and Excell (F2). The second factor was varieties of tomato: Bonanza (V1), Intan (V2) and Kaliurang 206 (V3). The aim of this research is to determine the effect of those treatments on quality of tomato in hydroponic culture.
The result showed that the yield and quality of Bonanza variety and Kaliurang 206 variety get improved, especially in weight of fruit (1259,62 gram), fruit hardness and ascorbat acid contains. The Sundstrom nutrition was most appropriate for tomato hydroponic media, resulting in better quality especially for fruit weight, number of fruits, fruit hardness, ascorbat acid contain and sugar contain.
Key words: Quality, tomato, hydroponic.

INTISARI

Penelitian tentang usaha meningkatkan kualitas beberapa varietas tomat dengan sistem budidaya hidroponik telah dilakukan di rumah plastik kebun praktek Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta. Percobaan dilaksanakan secara faktorial dengan rancangan acak kelompok lengkap dua faktor. Faktor pertama adalah formula larutan hara, yang terdiri dua aras yaitu formula Sundstrom (F1) dan formula Excell (F2). Faktor kedua adalah varietas tomat yang terdiri tiga aras, yaitu Bonanza (V1), Intan (V2) dan Kaliurang 206 (V3). Tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh perlakuan tersebut terhadap kualitas buah tomat yang dibudidayakan secara hidroponik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tomat varietas Bonanza dan Kaliurang 206 sama-sama mempunyai keunggulan apabila dibudidayakan secara hidroponik, bobot buah meningkat sampai 1259,62 gram per-tanaman dengan kualitas baik, terutama kekerasan buah dan kadar vitamin C. Formula larutan hara Sundstrom sangat tepat untuk larutan hidroponik tomat, terutama akan meningkatkan bobot buah, jumlah buah, kekerasan buah, kadar vitamin C dan kadar gula total.
Kata kunci: Kualitas, tomat, hidroponik.


PENDAHULUAN


Buah tomat saat ini merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan masih memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasilnya dan kualitas buahnya. Apabila dilihat dari rata-rata produksinya, ternyata tomat di Indonesia masih rendah, yaitu 6,3 ton/ha jika dibandingkan dengan negara-negara Taiwan, Saudi Arabia dan India yang berturut-turut 21 ton/ha, 13,4 ton/ha dan 9,5 ton/ha (Kartapradja dan Djuariah, 1992). Rendahnya produksi tomat di Indonesia kemungkinan disebabkan varietas yang ditanam tidak cocok, kultur teknis yang kurang baik atau pemberantasan hama/penyakit yang kurang efisien.
Kebanyakan varietas tomat hanya cocok ditanam di dataran tinggi, tetapi oleh Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian telah dilepas varietas tomat untuk dataran rendah, yaitu Ratna, Berlian, Mutiara serta beberapa varietas lainnya (Purwati dan Asga, 1990). Namun seringkali terjadi penanaman tomat tanpa memperhatikan kualitasnya, sehingga hasil dan kualitas buahnya sangat rendah. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan tomat yang semakin tinggi maka penelitian perlu diarahkan untuk meningkatkan hasil dan kualitas buah tomat dengan menanam varietas-varietas unggul.
Kemampuan tomat untuk dapat menghasilkan buah sangat tergantung pada interaksi antara pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungannya. Faktor lain yang menyebabkan produksi tomat rendah adalah penggunaan pupuk yang belum optimal sertta pola tanam yang belum tepat. Upaya untuk menanggulangi kendala tersebut adalah dengan perbaikan teknik budidaya. Salah satu teknik budidaya tanaman yang diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas tomat adalah hidroponik. Menurut Sundstrom (1982) dengan sistem hidroponik dapat diatur kondisi lingkungannya seperti suhu, kelembaban relatif dan intensitas cahaya, bahkan faktor curah hujan dapat dihilangkan sama sekali dan serangan hama penyakit dapat diperkecil.
Pada teknik ini hara disediakan dalam bentuk larutan hara, mengandung semua unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman agar tercapai pertumbuhan normal. Nutrisi yang diperlukan tanaman dapat dipenuhi dengan meramu sendiri berbagai garam kimia, cara ini memerlukan ketrampilan dan pengetahuan khusus. Memang cara inilah yang banyak dipakai di perusahaan-perusahaan besar, tetapi untuk di tingkat petani hal ini menjadi tidak efektif lagi mengingat mahalnya harga bahan-bahan kimia saat ini. Pencarian komposisi yang paling baik untuk tiap jenis tanaman khususnya tomat masih terus dilakukan, mengingat tiap jenis tanaman membutuhkan nutrisi dengan komposisi berbeda. Salah satu kesulitan didalam penyiapan larutan hara ini adalah belum diketahuinya dosis unsur hara yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Pada dosis yang terlalu rendah, pengaruh larutan hara tidak nyata, sedangkan pada dosis yang terlalu tinggi selain boros juga akan mengakibatkan tanaman mengalami plasmolisis, yaitu keluarnya cairan sel karena tertarik oleh larutan hara yang lebih pekat (Wijayani, 2000; Marschner, 1986).
Sundstrom (1982) telah memudahkan cara budidaya secara hidroponik dengan membuat formula larutan yang dapat digunakan untuk berbagai macam tanaman sayuran dan hias, anjurannya adalah N 140-300 ppm; P 31-80 ppm dan K 160-300 ppm, tetapi untuk kebutuhan yang optimal belum diketahui secara pasti. Selanjutnya Anonim (1997) lebih memerinci khusus untuk tanaman tomat secara hidroponik kebutuhan N berkisar

A. Wijayani dan W. Widodo: Usaha meningkatkan kualitas tomat dengan sistem hidroponik 79
300 ppm; P 80 ppm dan K 200 ppm, sedangkan Wijayani (1998) menganjurkan N sebesar 180 ppm, P 80 ppm dan K 160 ppm untuk meningkatkan kualitas buah paprika.
Penelitian yang membandingkan formulasi larutan hara dari bahan kimia murni dengan larutan hara siap pakai belum banyak dilakukan. Meskipun penggunaan varietas unggul sering dilaporkan akan meningkatkan hasil tanaman tomat, tetapi pengujian kualitas buah tomat belum banyak diteliti. Kenyataan bahwa kualitas buah tomat Indonesia masih rendah mutunya sangat menarik untuk dikaji lebih jauh mengenai bagaimana meningkatkan kualitas buah tomat dengan pemberian nutrisi yang tepat, disamping tentusaja harus menggunakan varietas unggul.

BAHAN DAN METODE


Bahan yang digunakan untuk penelitian meliputi benih tomat tiga varietas (Bonanza, Intan dan Kaliurang 206); larutan hara formula Sundstrom dan Excell; media tumbuh arang sekam. Sedangkan alat yang digunakan adalah drum larutan hara, drum sterilisasi, glass-ware, EC-meter, pH-meter, light-meter, pnetrometer, timbangan analitik, oven dan peralatan laboratorium untuk mendeteksi kualitas buah tomat.
Penelitian ini dilaksanakan dalam rumah plastik Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta yang memiliki suhu rata-rata 25-280 C pada bulan Agustus 1999 sampai Januari 2000. Analisis kualitas buah dilakukan di laboratorium penelitian jurusan Agronomi Fakultas Pertanian UPN Veteran dan laboratorium Kimia dan Biokimia, Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta.
Penelitian merupakan percobaan factorial dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dua factor.Faktor pertama adalah formula larutan hara, yang terdiri dua aras yaitu formula Sundstrom (F1) dan formula Excell (F2). Faktor kedua adalah varietas tomat yang terdiri tiga aras, yaitu Bonanza (V1), Intan (V2) dan Kaliurang 206 (V3). Dari kedua faktor tersebut akan didapatkan enam kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak lima kali dengan tiga tanaman sampel.
Pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Pembuatan larutan hara
Sebelumnya harus dilakukan perhitungan banyaknya garam pupuk yang harus dilarutkan menurut Resh (1983) : PXACMW100)(=
W = bobot garam kimia yang harus dilarutkan (mg)
C = konsentrasi unsur hara yang diinginkan (ppm)
M = berat molekul garam kimia yang akan digunakan
A = berat atom unsur hara yang diinginkan
P = kemurnian garam kimia (%)
Pemberian unsur hara dilakukan bersama dengan air penyiram dengan takaran 250 ml pada umur 0-4 minggu, 750 ml pada umur 4-6 minggu dan 1000 ml setelah umur 6 minggu sampai panen. Air siraman diberikan dua kali sehari, yaitu setiap pagi dan sore.

2. Penanaman dan pemeliharaan
Bibit tomat umur 15 hari ditanam pada masing-masing polibag berukuran 5 kg. Selanjutnya pada umur 10 hari setelah tanam dibantu ajir agar dapat tumbuh tegak. Caranya dengan menggunakan tali rami yang diikatkan pada batang tanaman dan selanjutnya ditarik keatas dan diikatkan pada kawat-kawat horizontal di langit-langit rumah plastik.

3. Analisis kualitas buah

Analisis kadar gula total dilakukan dengan metoda Nelson-Somogyi dan spektrofotometri
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis hasil penelitian didasarkan pada hasil pengamatan di lapangan dan hasil pengujian di laboratorium. Analisis terhadap bobot buah tomat menunjukkan bahwa varietas Bonanza dan Kaliurang 206 sama –sama menghasilkan bobot buah yang tinggi dibandingkan varietas Intan. Akan tetapi jumlah buah varietas Bonanza lebih banyak dibanding varietas kaliurang 206 (tabel 2). Hal itu menunjukkan bahwa varietas Kaliurang 206 bentuk buah dan bobotnya lebih besar dibanding varietas

Bonanza. Secara genetis varietas Kaliurang 206 mampu menghasilkan buah dengan bobot mencapai 180 gram, hasil tersebut sangat jauh dibandingkan varietas Bonanza 60 gram dan varietas Intan 45 gram (Kartapradja dan Djuariah, 1992). Namun selain itu, rendahnya jumlah buah yang dihasilkan varietas Intan dan Kaliurang 206 apabila dibandingkan varietas Bonanza diduga karena pada saat pembentukan pentil buah telah terjadi serangan penyakit busuk buah, sehingga untuk mengurangi bertambah meluasnya penyakit tersebut maka hampir semua buah yang telah terkena penyakit tersebut kami petik. Akibat tindakan yang kami lakukan ternyata berpengaruh terhadap jumlah buah yang dipanen.
Menurut deskripsi dari AVRDC, varietas Intan yang merupakan persilangan antara Nagcarican dan Anahu memang sangat rentan terhadap penyakit layu bakteri dan busuk, khususnya pada kelembaban yang cukup tinggi (Villareal, 1980).

Keterangan : Angka rerata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji jarak berganda Duncan taraf 5%
Adanya pengaruh nyata dari formula Sundstrom sangat berkait erat dengan takaran formulanya yang lebih sesuai untuk nutrisi hidroponik dibandingkan excell. Komposisi nutrisi formula Sundstrom dengan nitrogen sebesar 180 ppm akan meningkatkan bobot buah sampai 1196,67 gram dengan jumlah buah mencapai 21,44 buah. Apabila dibandingkan dengan formula Excell yang kandungan nitrogennya mencapai 330 ppm dan menghasilkan bobot dan jumlah buah lebih kecil menunjukkan bahwa nitrogen terlalu tinggi justru akan bersifat meracuni tanaman. Menurut Wijayani (2000) akar tanaman pendek dan tidak berkembang sempurna sehingga rasio tajuk akar akan tinggi, hal tersebut mengakibatkan proses serapan hara terganggu. Lebih lanjut Marschner (1986) dan Wijayani (2000) mengatakan bahwa pemberian nitrogen dengan konsentrasi tinggi akan berakibat serapannya menjadi rendah. Terjadinya hal tersebut karena konsentrasi nitrogen yang tinggi akan menyebabkan larutan hara menjadi lebih pekat melampaui kepekatan dari cairan sel. Larutan yang pekat tak dapat diserap oleh akar secara maksimum disebabkan tekanan osmose sel menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan osmose di luar sel, sehingga kemungkinan justru akan terjadi aliran balik cairan sel-sel tanaman (plasmolisis).

Keterangan : Angka rerata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji jarak berganda Duncan taraf 5%
Pada tabel 3 terlihat bahwa varietas Bonanza mempunyai kekerasan buah tertinggi (0,436 cm) dengan kadar air terendah (94,64%). Kekerasan buah tomat sangat terkait erat dengan kadar air yang dikandung buah tersebut. Apabila kadar airnya tinggi maka buah tersebut akan lembek atau berkurang kekerasannya, sebaliknya apabila kadar airnya sedikit maka buah akan menunjukkan kekerasan yang lebih tinggi apabila diukur dengan alat pnetrometer buah 1 kg. Menurut Ryall dan Lipton (1972) salah satu kriteria buah tomat dengan kualitas baik dan disukai konsumen adalah mempunyai kekerasan tinggi dengan kadar air sedang. Buah tomat dengan kadar air diatas 95% akan mudah busuk apabila disimpan, mudah pecah dan terasa lembek apabila dikonsumsi.
Varietas Bonaza dan Intan mempunyai kadar vitamin C tinggi (0,025%) dibandingkan varietas Kaliurang 206 (0,019%). Terlihat juga bahwa formula Sundstrom akan meningkatkan kadar vitamin C buah tomat mencapai 0,025%, lebih tinggi dibanding formula Excell (0,023%). Tingginya kadar vitamin C tersebut berkait erat dengan sifat genetis dan juga fungsi unsur nitrogen bagi proses metabolisme tanaman. Menurut Wagner dan Michael cit Marschner (1986) pemasokan mineral, khususnya nitrogen akan mempengaruhi aktifitas sitokinin pada akar. Nitrogen yang tidak sempurna diserap oleh akar sehingga keberadaannya dalam tanaman terlalu rendah akan menurunkan aktifitas sitokinin. Turunnya aktifitas sitokinin tersebut menyebabkan terganggunya metabolisme protein di daun karena sitokinin akan bertindak sebagai regulator dalam pembentukan senyawa protein tanaman. Protein akan disintesis sebagian menjadi vitamin C pada buah. Selanjutnya Hochmuth (1991) mengatakan bahwa nitrogen merupakan unsur utama penyusun protein bersama-sama dengan unsur C,H,O dan S. Pada kondisi nitrogen rendah maka protein yang terbentuk akan berkurang dan sebaliknya apabila kandungan nitrogen dalam jaringan tanaman meningkat maka kandungan protein yang sekaligus juga kandungan vitamin C juga akan meningkat.
Kandungan gula total pada buah tomat sangat dipengaruhi sifat genetis tanaman. Pada penelitian ini kandungan gula total buah tomat cenderung normal, yaitu berkisar 3,00-4,20%. Menurut Villareal (1980) kandungan gula total pada tomat berkisar 3,88-5,35%. Varietas Intan ternyata lebih tinggi kadar gula totalnya dibanding kedua varietas lainnya, juga terlihat formula Sundstrom akan meningkatkan kadar gula totalnya hingga
A. Wijayani dan W. Widodo: Usaha meningkatkan kualitas tomat dengan sistem hidroponik 83
mencapai 4,136%. Hal tersebut terkait dengan formulasinya, kandungan nitrogen yang cukup akan meningkatkan terjadinya hidrolisa tepung menjadi gula.
KESIMPULAN
Dari ketiga varietas yang diteliti, masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan, akan tetapi varietas Bonanza dan Kaliurang 206 lebih unggul dibandingkan varietas Intan apabila dibudidayakan secara hidroponik. Keunggulannya antara lain lebih tinggi bobot buahnya, jumlah buah, kekerasan buah dan kadar vitamin C.
Formula larutan hara Sundstrom lebih cocok digunakan sebagai pupuk hidroponik dibandingkan larutan hara Excell, terutama akan meningkatkan bobot buah, jumlah buah, kekerasan buah, kadar vitamin C dan kadar gula buah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997. Excell, a better plant nutrient. Tirta Kumala Trading Coy. Jakarta
Hochmuth, G., 1991. Fertilizer programs for tomatoes in Florida. Proc. 1990 Annu. Amer. Greenhouse Vegetables growers Assn. Conference and Trade show, Jacksonville, Fla. 1-3 Nov. 1990.
Kartapradja, R. dan D. Djuariah, 1992. Pengaruh tingkat kematangan buah tomat terhadap daya kecambah, pertumbuhan dan hasil tomat. Buletin Penelitian Hortikultura Vol XXIV/2.
Marschner, H., 1986. Mineral nutrition in higher plants. Academic press Harcourt brace Jovanovich Publisher.
Purwati, E. dan Ali Asga, 1990. Seleksi varietas tomat untuk perbaikan kualitas. Buletin Penelitian Hortikultura Vol XX/1
Resh, H.M., 1983. Hydroponics Food Production. Woodbridge Press Publishing Company. Santa Barbara California.
Ryall M. and Lipton , 1972. Tomatoes commodity requirements of ryie fruits handling. Transportation and storage of fruit and vegetables. West point Connecticut. The AVI Publ. Con. Inc.
Sundstrom, A.C., 1982. Simple hydroponics for Australian Home gardeners. Melbourne.
Villareal R.L. 1980. Tomatoes in the tropics. Westview press boilder Colorado
Wijayani, A., D. Muljanto dan Soenoeadji, 1998. Serapan unsur nitrogen oleh tanaman paprika yang dibudidayakan secara hiroponik. Berkala penelitian Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Jilid II, No. 2B, Mei 1998. p.197-206.
Wijayani, A., 2000. Budidaya paprika secara hiroponik : Pengaruhnya terhadap serapan nitrogen dalam buah. Agrivet Vol 4, Juli 2000. p. 60-65.

0 komentar: